Ratu Sinuhun: Pelopor Perlindungan Perempuan dari Palembang

Usulan Ratu Sinuhun sebagai Pahlawan Nasional perempuan dari Sumatera Selatan semakin menguat. Sosoknya dikenal sebagai pelopor perlindungan perempuan sejak abad ke-16, sekaligus tokoh berpengaruh dalam sejarah Kesultanan Palembang Darussalam. Kedua artikel ini menyoroti kiprah dan nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan Ratu Sinuhun, serta dukungan masyarakat terhadap pengakuan resmi atas jasanya.

Untuk membaca lebih lanjut, anda bisa akses dua sumber berikut:

https://palembang.tribunnews.com/2025/07/23/ratu-sinuhun-diusulkan-jadi-pahlawan-nasional-pelopor-perlindungan-perempuan-di-abad-ke-16

https://sumsel.tribunnews.com/2025/07/23/ratu-sinuhun-tokoh-perempuan-asal-palembang-diusulkan-jadi-pahlawan-nasional

Dari Lampung untuk Ratu Sinuhun: Dukungan Lintas Daerah Menguat

Dukungan terhadap Ratu Sinuhun sebagai Pahlawan Nasional perempuan dari Sumatera Selatan kini tak hanya datang dari Palembang, tapi juga mengalir dari Lampung. Gerakan ini menunjukkan bahwa figur perempuan berpengaruh dari masa lalu mulai diakui sebagai simbol kepemimpinan dan kesetaraan yang relevan hingga hari ini.

Untuk membaca lebih lanjut tentang dukungan dari Lampung dan makna di balik gerakan ini, anda bisa akses dua berita berikut:

https://www.porosjakarta.com/nusantara/066332939/dukungan-mengalir-dari-lampung-ratu-sinuhun-didorong-jadi-pahlawan-nasional-perempuan-dari-sumatera-selatan

https://radarjakarta.id/2025/07/22/dari-lampung-untuk-nusantara-ratu-sinuhun-diusulkan-jadi-pahlawan-nasional-perempuan-simbol-kepemimpinan-dan-kesetaraan-sejak-abad-ke-16/

PERJUANGAN RATU SINUHUN – KARISA PUSPA YELI

Video ini merekam momen penting dalam perjalanan pengakuan Ratu Sinuhun sebagai Pahlawan Nasional perempuan dari Sumatera Selatan. Berbagai pihak menyampaikan dukungan, pandangan, dan harapan agar sosok bersejarah ini mendapat tempat yang layak dalam narasi bangsa.

Untuk menyimak langsung suasana dan isi dialog yang berlangsung, anda bisa tonton videonya di sini:

https://youtu.be/xkTlhikSneY?si=PhC0YMJ2OddCG2JK

Ratu Sinuhun: Kartini 16 Abad Lalu dari Palembang Darussalam

Jauh sebelum nama Kartini dikenal secara nasional, Kesultanan Palembang Darussalam telah memiliki sosok perempuan berpengaruh yang berani berpikir maju dan berperan aktif dalam kehidupan masyarakat—Ratu Sinuhun. Artikel ini mengajak kita mengenal lebih dekat figur yang disebut sebagai “Kartini 16 abad lalu,” dan bagaimana jejaknya menjadi bagian penting dari sejarah perempuan di Nusantara.

Untuk membaca kisah lengkapnya, anda bisa akses tautan berikut:

https://sentralpost.co/mengenal-ratu-sinuhun-sosok-kartini-16-abad-lalu-yang-dimiliki-kesultanan-palembang-darusalam

Wisata Religi dan Teladan Perempuan Palembang: Ratu Sinuhun dalam Sorotan

Zuriat Kiai Kemas Muhadda menggelar kegiatan wisata religi yang tak hanya memperkuat nilai spiritual, tapi juga mengangkat sosok Ratu Sinuhun sebagai figur teladan perempuan Palembang. Dalam momen ini, sejarah dan nilai-nilai lokal kembali dihidupkan, menunjukkan bahwa peran perempuan dalam budaya dan spiritualitas tak pernah hilang.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kegiatan ini dan bagaimana Ratu Sinuhun diangkat sebagai inspirasi, anda bisa baca beritanya di sini:

https://gandustv.com/zuriat-kiai-kemas-muhadda-gelar-wisata-religi-angkat-sosok-ratu-sinuhun-sebagai-teladan-perempuan-palembang/

1.000 Tanda Tangan dari Palembang: Suara Kolektif untuk Ratu Sinuhun

Dukungan terhadap Ratu Sinuhun sebagai Pahlawan Nasional perempuan dari Sumatera Selatan terus menguat. Sebanyak 1.000 tanda tangan dari masyarakat Palembang telah dikumpulkan dan disuarakan hingga ke Jakarta—sebuah gerakan kolektif yang menunjukkan betapa pentingnya pengakuan terhadap tokoh perempuan dalam sejarah lokal.

Untuk melihat bagaimana dukungan ini tumbuh dan apa makna di balik gerakan tersebut, anda bisa baca beritanya di sini:

https://radarjakarta.id/2025/07/24/1-000-tanda-tangan-dari-palembang-menggema-ke-jakarta-ratu-sinuhun-layak-jadi-pahlawan-bangsa/

https://www.porosjakarta.com/nusantara/066341530/dukungan-mengalir-di-palembang-1000-tanda-tangan-dukung-ratu-sinuhun-jadi-pahlawan-nasional-perempuan

CORAK TRADISI DAN PENGEMBANGAN IDE

Karya: Anto Narasoma

GETAR seni di dalam jiwa manusia, seringkali menggiring untuk mewujudkannya lewat karya. Begitu pula dengan diri seorang pelukis senior asal Yogyakarta, DN Koestolo.

Sebagai seniman, jiwa Koestolo selalu gelisah. Ketika melihat persoalan kemanusiaan di lapangan, hatinya tergetar hebat. Ini pula yang kerap menggiringnya menjadikan momen fakta kehidupan digarap menjadi sebentuk karya (lukisan).

Mencermati lukisan bertajuk "Biyung" yang dikanvaskan di atas medium oil on canvas berukuran 120X100 sentmeter, menggelitik hati saya.

Sebab sebagai seorang pelukis, kepekaan nuarani sungguh mengagumkan. Lukisan Biyung menggambarkan sosok seorang ibu muda yang sedang mengajak jalan dua anaknya. Yang satu digendong, anak perempuannya lebih besar berdiri di depan ibunya.

Koestolo begitu piawai melukiskan corak seorang wanita Jawa dengan dua anaknya yang masih kecil.

Ketika kita masuk ke dalam estetika lukisan Biyung', Koestolo begitu detil menggambarkan rumusan bentuk.

Dari raut wajah, gurat-garis dan lekuk di tiap celah kulit dan daging bentuk lukisan, digarapnya secara faktual, sehingga orang akan diajak masuk ke dalam corak gagasan dan bentuk manusia sesungguhnya.

Inilah keistimewaan seorang Koestolo ketika menumpahkan ide dan gagasannya ke dalam penggarapan karya.

Lukisan Biyung diselesaikan tahun 2020 lalu. Namun dengan bentuk alami seperti itu, karyanya akan abadi secara estetika.

Dari bentuk manusianya, layar belakang dinding yang di posisi bawah terlukis tempelan semennya terkelupas, payung, dan tanah, seolah menggambarkan keadaan sesungguhnya.

Pelukis dunia Oscar-Claude Monet, mengatakan bahwa menggurat lukisan sesuai bentuknya memang membutuhkan ketajaman pikiran dan keterampilan bakat seseorang (sense of art).

Sebab ketika seorang pelukis menangkap ide dari fakta di lapangan, kata Oscar, ia tidak langsung menumpahkan gagasannya ke dalam goresan tangannya.

Memang, pengendapan ide yang akan digagas menjadi lukisan membutuhkan waktu, sehingga seorang pelukis akan gampang memindahkan pokok-pokok pikirannya ke dalam lukisan.

Meski demikian, sikap pelukis memang selalu melekat dengan tradisi hidup kesehariannya. Makanya, ketika DN Koestolo melukis ibu dengan latar belakang tradisi ke-Jawa-annya yang begitu kental tertera di dalam lukisan Biyung.

Jika ditelusuri, penguasaan situasi kedaerahan (Jawa) memang begitu melekat di dalam jiwa Koestolo, sehingga ia begitu mudah memaparkan situasi lukisan tersebut.

Seperti diungkap pelukis Oscar-Claude Monet sebelumnya, kedekatan jiwa dan tradisi Jawa yang melekat dalam kehidupan itulah yang "membantu" Koestolo menghadirkan lukisan Biyung.

Menurut Afandi, yang membesarkan seorang pelukis ketika ia memaparkan ide dan gagasan di dalam lukisannya, jiwa harus lebur ke dalam fakta bentuk, sehingga karya yang dihasilkan benar-benar menghadirkan bentuk gambar sesuai fakta di lapangan. Bahkan lukisannya terkesan hidup seperti bentuk sesungguhnya. (*)

Palembang
16 Maret 2023

Live Streaming: Dukungan untuk Ratu Sinuhun sebagai Pahlawan Nasional

Proses pengusulan Ratu Sinuhun sebagai Pahlawan Nasional dari Sumatera Selatan terus mendapat perhatian publik. Dalam sesi live ini, berbagai pihak menyuarakan dukungan dan harapan agar sosok perempuan berpengaruh dari Palembang itu diakui secara resmi dalam sejarah nasional.

Kalau kamu ingin menyimak langsung jalannya diskusi dan dukungan yang disampaikan, kamu bisa tonton videonya di sini:

https://www.youtube.com/live/Pvo1_tz7Fak?si=dbekApDlpn8434PV